Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Ketika Raga sudah tak lagi menyapa



        “tettt” telfon di tutup, sekilas terlintas kembali foto Abah di layar telfon. Aku memandanginya penuh rindu. Terakhir abah berkata bahwa kondisinya sehat dan masih sibuk mengurusi usaha roti bakarnya yang memiliki beberapa cabang di kota kembang. Aku merebahkan tubuhku, peluh kembali mengucur, sudahlah hanya sakit biasa. Ku ambil jaket abu yang menggantung tak beraturan di atas kursi, hari ini ada mata pelajaran tafsir Qur’an Sayyid Hasan di kampus.
        Aku bergegas, trotoar di depanku terlihat memanjang. Kendaraan hilir mudik di tengan jalan raya, mesir sedang mengalami musim panas yang cukup membuatku tersisa. Tahun ini tahun pertamaku di negeri Cleopatra, aku harus banyak menyesuaikan diri disini. Kami tiga bersaudara kakakku yang pertama Halim sudah menikah dan tinggal di Jakarta, kakakku yang kedua Irham adalah juara kelas sejak kecil, abah begitu membanggakannya. Pendidikannya begitu cepat melesat dia menyelesaikan pendidikan menengah dan menengah atasnya dalam waktu empat tahun. Aku sendiri delapan bulan yang lalu baru lulus dari pondok modern yang mengajarkanku banyak hal, termasuk berbahasa. Sebulan kemudian mengikuti test untuk ke Mesir dan Turki, Alhamdulillah universitas kenamaan ini menerimaku sebagai salah satu dari mahasiswanya.
        Ku sambangi pintu masuk, lorong univ terlihat lenggang, cuman ada beberapa orang saja yang sibuk dengan urusannya masing-masing. aku melangkah lebih cepat, waktu menunjukkan pukul dua siang, jika Sayyid datang tepat waktu maka aku sudah terlambat mengingikuti pelajarannya. Kali ini keberuntungan ada di pihakku, Sayyid belum datang dan kelas masih terlihat kosong, aku memilih deretan bangku kedua dari depan karena bangku pertama biasanya diisi oleh mahasiswa senior yang memang mengambil jurusan tafsir.
        Tiba-tiba telfonku berbunyi, lantunan surah al-kautsar mengalun dari celah-celah speakernya, ku lihat nomor yang tertera, kodenya negara Malaysia. Aku keluar tentu saja dengan segera, pelajaran tafsir ini lebih penting dari pelajaran tambahan manapun menurutku, dengan tafsir kita bisa mengenali al-Qur’an dari dalamnya serta menganalisis lebih dalam lagi makna-makna yang terkandung di dalamnya. Terdengar suara di sebrang sana: “Sar, gimana kabarmu? Sehat, ini sarah kan”, sejenak aku berfikir, suara terburu-buru, nadanya tidka beraturan, datang-datang ga salam dan langsung nanya kabar siapa lagi kalau bukan melisa!, “ee… e… iya ini Sarah, Alhamdulillah berkat doa dari semuanya, ana baik, kau gimana mel?”. “aku baik sar, oya seminggu lagi aku dapat tiket buat ke Mesir nih, bisa ajak aku jalan-jalan ga? Hehe, ceritanya ada destinasi bisnis papa yang harus aku cek disana, sekalian cari buku buat skripsi, sekalian cari tempat buat foto-foto, sekalian nyoba kuliner timur tengah sekalian beli baju buat kuliah, sekalian………………..” “Melisaaaaaaaaaaaaaaaa……. Cukup! Iya aku akan nganterin kamu kemanapun kamu mau, yang jelas kamu pastiin dulu tiketnya tanggal berapa terusnya berangkat sama siapa terus bawa apa aja, kopernya segimana, terus……………….” Saraaahhh,,, are u srupid? Haha, kau nyuruh aku diem sendrinya ngomong mulu”, sejenak kami diam, lalu suara cekikikan terdengar dari seberang sana, aku tersenyum lega, lisa masih sama seperti dulu, asyik dan ga bawa perasaan… setelah obrolan itu aku bergegas kembali menuju kelas Sayyid Hasan yang kelihatannya sudah dimulai.
        Signal 3g terlihat dari telfon genggamku, sungguh malas ya malas sekali. Malam ini aku harus memastikan beberapa kuliah yang akan dibatalkan minggu depan, penyebabnya tentu saja lisa, sahabat taman kanak-kanakku yang cerdas, multitalent dan tentu saja cantik. Belum lagi membayangkan kelakuannya yang cuek sejak dulu, tak pernah memandang orang dalam berbicara, gimana caranya dia akan liburan di negeri yang serba tertutup seperti ini? dan tentu saja hijabnya, aku harus memaksanya untuk berhijab karena flatku berdekatan dengan universitas. Oke, ku lirik layar telfon itu, terihat senyuman indah kak Riska, istri kak halim. Aku berfikir sejenak untuk kemudian memutuskan tidak menerima telfon tersebut. Badanku begitu lelah, belum lagi tugas yang menumpuk membuat mata ini ingin terpejam saja, jika aku menerima telfon itu akan ada resiko tinggi yang menimpaku, kak Riska yang merupakan seorang dokter punya kepekaan yang tinggi terutama dalam mengenali suara seseorang.
         “sarah sayang, abah sakit doakan ya”. Ya ilahi, ragaku tersentak… rasa khawatir memenuhi ubun-ubun ini, abah baru saja kemarin abah menelfon dan mengatakan bahwa beliau baik-baik saja. Abah kenapa? Fikiranku buyar, rasanya aku tak bisa lagi masuk kuliah pagi ini. perlahan ku buka pesan itu, kak Riska mengirim beberapa pesan melalui aplikasi pesan instan, selanjutkan deretan panggilan tak terjawab terlihat dengan nama yang sama, Irham Maulana. Ku kirim pesan singkat kepada kak Irham, kami hanya berbeda dua jam saja, jadi ku pikir ini tidak terlalu subuh untuk mengirimnya pesan. Jawaban yang ku tunggu tak juga datang. ku putuskan untuk langsung menelfon ke Indonesia, suara abah terdengar parau dari sana: “adek, kenapa nelfon malam-malam begini, ada masalah? Abah siap dengerin kok”. Air mataku berlinang, Abah masih saja sempat menyembunyikan rasa sakitnya. “emm, Abah katanya abah lagi sakit ya, kok ga bilang sama adek sih?, Abah ga sayang lagi sama adek?.. abah terdiam sejenak, “Abah ga sakit, kemarin kak Halim dan sarah datang kesini, muka abah pucat, abah baru pulang dari kebun makannya mereka menyangka abah sakit.”..”syukurlah kalau abah tidak apa-apa, abah jangan terlalu capek ya, nanti sarah khawatir…. Sarah takut Abah…” “abah gapapa kok sar, sarah gaada kuliah? Udah sholat? Sarah kalau sholat jangan lupa doain keluarga disini, doakan kaka-kakakmu dan terutama doakan orang-orang yang ada di sekitarmu, abah titip pesan biar Sarah jaga diri disana. Sarah sebentar lagi kan ulang tahun ya? Sarah kepengen apa dari abah”, bibirku kelu untuk berucap, Abah, aku gapengen apa-apa selain dekat dengan abah sekarang. “Sarah… masih disitu ya?”.. “iya Bah, sarah kepengen… apa ya… kalau sarah kepengen makan bareng di tempatnya Bu Minah gimana? Bisa gaa? Hihi” aku menggigit bibir, Abah, andai Abah tau serindu apa Sarah sekarang. “iya, Inshaallah kalau umur Abah masih lama, Sarah pokoknya jangan khawatir kalau pulang abah beliin apa yang sarah mau. Abah sayang sama Sarah” kata-kata yang terakhir terdengar berat di ucapkannya. Umur abah masih terhitung muda, ummi meninggalkan abah dua tahun yang lalu karena penyakit yang tidak pernah diceritakannya pada kami, bahkan abah tau ummi sakit dua minggu sebelum ummi wafat. “Sarah juga sayang sama Abah, Abah sehat terus ya,,, nanti Sarah pulang bawa yang Abah mau, abah mau apa?. “baru juga beberapa bulan disana.. belajar yang benar Nak… gausah mikir-mikir pulang ya! Abah baik-baik saja disini, Abah sayang kamu Sarah”. Beberapa obrolan kami berlalu setelah itu, dengung adzan subuh kembali terdengar, meski dengan lirik yang sama dan mungkin muadzin yang sama pula namun semangat yang dibawanya selalu baru, ya semangat untuk terus menuntut ilmu.
          Pelajaran pertama selesai, aku harus melalui beberapa kuliah hari ini, niatku ku urungkan kuliah kedua aku batalkan aku bisa masuk kuliah ini di kelas lain dengan jam yang agak lenggang. Selanjutnya aku melangkah menuju ke perataran masjid untuk Sholat Dhuhur. “Sarah, Abah meninggal” dadaku sesak. “Maksud kaka apa?”. “Sarah kamu yang sabar ya” kaka gabisa pesankan tiket buat hari ini.. ana gabisa pulang kak? Sarah.. sabar ya… air mataku tak terbendung lagi. aku berjalan setengah berlari menuju flatku. Beberapa orang memendangiku aku tak peduli sungguh tak peduli. Abah, seru ku dalam hati, kenapa secepat ini. abah bilang abah sayang Sarah, tapi abah ninggalin sarah, sarah salah apa? Sarah ini anak yang ga berguna buat abah, cuman bisa nyusahin abah dan sekarang abah pergi sebelum sarah sempet setidaknya cium tangan abah buat terkhir kali.
          Ku sambangi fotoku dan abah saat terakhir kali di bandara. Terlihat senyum binar abah, matanya memancarkan keteduhan yang luar biasa. Abah tidak lagi muda, guratan penuan sudah nampak tapi aura mudanya tak pernah pudar, kami masih sempat nonton film bareng, pergi memancing, jalan-jalan dan sekedar ngobrol sampai larut malam. Abah tidak menyelesaikan magisternya namun semangat belajarnya tidak pernah surut. Mesir adalah negara yang belum terinjak oleh kaki abah. Karenanya abah sangat ingin aku sekolah disini... Abah, abah adalah orang yang tidak banyak mengeluh…. Beberapa kali ponselku berdering, aku tak terengah, fikiranku sekarang hanya Abah. Ku tarik bagian bawah meja belajarku, ku buka buku harianku, kuncinya tergantung rapih disana, semejak di mesir hanya sekali saja aku menulis disitu, ku buka lembaran demi lembarannya, tinta pulpen sudah mulai memudar. Sebelum sampai ke halaman terakhir, secarik kertas berwarna biru menyembul. Tulisan abah fikirku, perlahan aku buka lipatannya. “Nak, bersegeralah menuju mimpimu. Kamu anak yang cantik dan baik. Jaga kesehatanmu disana. Abah sayang Sarah”. Ya Allah, Abah tak peranah berhenti mengkhawatirkanku, menjagaku dalam doa-doanya.. bahkan saat aku akan berangkat abah masih sempat menyelipkan kertas ini di buku harianku… Abah, Sarah rindu Abah……. Sarah janji tidak akan mengecewakan Abah lagi, Sarah janji :”)

Rindumu tamatkan luka, akhiri risau, tepiskan sendu,
Abah, senja tak pernah berhenti menampakkan keindahannya
Namun senyum Abah mengalahkan segala keindahan termasuk senja
Abah, jangan biarkan rindu terpasung karena jauhnya jarak..
Biarkan rindu mendekat karena rekatnya kasihmu…
Abah…..

PUASA UNTUK MEREKA

     Pagi itu, udara tak biasanya begitu segar dan matahari pun masih malu-malu untuk terbit, Aku pun bersemangat dan bergegas menyiapkan barang-barangku, rencananya siang itu  aku akan pulang kampung. Meskipun bulan Ramadhan sudah memasuki hari ke 3, tetapi aku tetap menyempatkan untuk pulang, rasanya hati ini sudah ingin sekali memeluk Ayah dan Ibu.

     Setelah semuanya siap, Aku pun berpamitan kepada Ibu kostan, lalu bergegas pergi menuju jalan raya. Sambil menunggu bus yang akan mengantarkanku ke Bandung, aku pun menyempatkan membeli sedikit buah tangan untuk keluargaku di rumah.

     Bus yang aku tunggu telah tiba, aku pun naik dan duduk bersebelahan bersama penumpang yang lain. Aku bersandar ke kursi dan beristirahat sejenak sambil menikmati perjalanan menuju kampung halamanku. Tak terasa aku pun tiba di terminal bus dan berjalan ke sebelah utara sambil menunggu tukang becak yang akan mengantarkanku ke rumah Ibu.

     Salah seorang tukang becak menghampiriku dan berkata :“Neng becak…?” dan aku pun menjawab :” Iya bang”. Aku naik dan duduk sambil menikmati perjalanan, Angin lembut menerpa wajah dan hijabku kicauan burung melengkapi kenikmatan di  sore itu. Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari belakang, “Abang becak …?”
      Ya, kudapati ia tengah lahapnya menyuap potongan terakhir pisang goreng di tangannya. Sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. “walah, puasa-puasa begini seenaknya saja dia makan,” gumamku. Rasa penasaranku semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat kebanyakan orang tengah berpuasa.
  
“mmm …, Abang muslim bukan?” tanyaku ragu-ragu.
 “Ya neng, saya muslim …” jawabnya terengah sambil terus mengayuh.
“Tapi kenapa abang tidak puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan. Sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang yang berpuasa …” deras aliran kata keluar dari mulutku layaknya orang berceramah.

      Tukang becak yang kutaksir berusia di atas  lima puluh tahun itu menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah garangku yang sejak tadi menghadap ke arahnya.

“Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur saja neng, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini, ditambah lagi pendapatan abang yang pas-pasan. Tanpa memberikan kesempatan ku untuk memotongnya.
 “Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi dengan puasa,” jelas bapak tukang becak itu.
“Maksud bapak?” mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya.
“Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti neng berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib, sedangkan kami kadang harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya …”
 “Jadi …” belum sempat kuteruskan kalimatku,
“Orang-orang berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa peduli bulan ramadhan atau bukan …”
“Abang sejak siang tadi bingung neng mau makan dua potong pisang goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang berpuasa, tapi…”  kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya saya di tempat tujuan.

     Sungguh Saya jadi menyesal telah menceramahinya tadi. Tidak semestinya saya bersikap demikian kepadanya. Seharusnya saya bisa melihat lebih ke dalam, betapa ia pun harus menanggung malu untuk makan di saat orang-orang berpuasa demi mengganjal perut laparnya. Karena jika perutnya tak terganjal mungkin roda becak ini pun tak kan berputar …
Ah, kini seharusnya saya yang harus merasa malu dengan puasa saya sendiri? Bukankah salah satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi kenapa orang-orang yang dekat dengan saya nampaknya luput dari perhatian dan kepedulian saya?
Tak terasa aku pun hampir sampai di depan rumahku,
 “sudah bang di sini saja, ini uangnya”
“Wah, nggak ada kembaliannya neng…”
“Hmm, simpan saja buat sahur Bapak besok ya …”
“Terima kasih neng, semoga Allah membalas semua kebaikan neng” (Rasa bahagia pun menyelimuti wajahnya, lalu ia membalikkan becaknya dan pergi sambil mengayuh becaknya kembali. Sungguh hati ini begitu tersentuh mendengar cerita abang becak tadi meskipun sudah renta tetapi beliau masih semangat menjalankan propesinya itu. Demi menopang segala kebutuhan hidupnya,yang tak sesekali keberuntungan menyertai dirinya).
*****

Jangan Berbohong

       
Ada kalanya kita KEPEPET dan mendadak jadi KREATIF karena harus mengarang sebuah cerita untuk “menyelamatkan” diri dari sebuah hukuman. Kicauan Motty pagi ini ingin menggelitik hati Sobat-Motty semuanya dan berharap kita semua bisa mengambil hikmahnya...
Ada 4 orang mahasiswa yang kebetulan telat ikut ujian semester karena bangun kesiangan.
Mereka lantas menyusun strategi untuk kompak kasih alasan yang sama agar dosen mereka berbaik hati memberi ujian susulan. 
Mahasiswa A: pak, maaf kami telat ikut ujian semester
Mahasiswa B: iya pak. Kami berempat naik angkot yg sama dan ban angkotnya meletus.
Mahasiswa C: iya kami kasihan sama supirnya. Jadinya kami bantu dia pasang ban baru.
Mahasiswa D: oleh karena itu kami mohon kebaikan hati bapak untuk kami mengikuti ujian susulan.
Sang dosen berpikir sejenak dan akhirnya memperbolehkan mereka ikut ujian susulan.
 Keesokan hari ujian susulan dilaksanakan, tapi keempat mahasiswa diminta mengerjakan ujian di 4 ruangan yg berbeda. “Ah, mungkin biar tidak menyontek,” pikir para mahasiswa.
Ternyata ujiannya cuma ada 2 soal. Dengan ketentuan mereka baru diperbolehkan melihat dan mengerjakan soal kedua setelah selesai mengerjakan soal pertama.
Soal pertama sangat mudah dengan bobot nilai 10. Keempat mahasiswa mengerjakan dengan senyum senyum.
Giliran membaca soal kedua dengan bobot nilai 90. Keringat dingin pun mulai bercucuran.
Di soal kedua tertulis:
“Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus?”
….
“Jujurlah dalam setiap kesempatan.. Jika kita tidak bisa demikian, paling tidak janganlah berbohong”